Minggu, 07 September 2014
Transisi 2013 memasuki 2014
Waktu mau balik ke Bali dari US, karena ada masalah dgn tiket jadinya di stop di Canada. Disana terpaksa tinggal di rumah saudara selama 3 hari. Sebenarnya dari US sendiri, saya sedang dlm keadaan sedih, tapi berusaha menyimpan supaya tdk menyusahkan keluarga di Canada. Saya tetap ceria dan bercanda. Tapi hati nyesek bgt. Sampai di Bali baru saya mendapat kebebasan untuk berteriak dan menangis. Berhari2 saya di kamar, nangis. Saat itu jam 3 pagi, saya masih nangis dan berdoa, tiba2 Ibu datang ke kamar saya. Saat saya bilang ke Ibu "mama wulan bingung, ga mau balik lg, tapi wulan ga tega, wulan harus mikirin perasaan dia atau wulan?, wulan sudah berusaha. Klo wulan mikirin perasaan dia, wulan yg menderita, klo mikirin perasaannya wulan, takutnya dia sakit hati". Ibu " wulan, coba wulan renungkan, semua dari kita akan mati, wulan mau mati seperti ini dgn cara mengorbankan perasaan. Untuk apa bertemu banyak orang suci tapi tdk bahagia. Kebahagian itu yg terpenting Wulan. Bukan materi, bukan status sosial. Ketika wulan bahagia semua kebutuhan akan terpenuhi. Kehidupan akan berlutut di kaki Wulan. Wulan yg menentukan hidupnya wulan sendiri, kehidupan nya wulan diciptakan oleh wulan sendiri. Pilihan sekarang ada di tangan wulan, mau tetap menderita atau bangkit lagi, lakukan banyak2 kebaikan, belajar belajar dan belajar terus sampai wulan menemukan jati diri wulan, ingat wulan, kita semua akan mati, itu saja pesan mama untuk Wulan, lebih baik wulan duduk meditasi sekarang, berdoa semoga yg terbaik di buka, doakan suami wulan supaya tenang disana".. Saya ingin menyampaikan ke teman2 hubungan saya dan suami sudah berakhir sebulan yg lalu. Kita memutuskan untuk cerai. Sekarang sedang proses surat2nya. Beruntung karena kmi tdk ada anak dan pernikahan saya tdk tercatat di Indonesia. Jadi semuanya sangat gampang untuk di lepaskan. Kami berpisah dgn damai, komunikasi kmi masih ada hanya sebatas sahabat. Saya pun masih membantu dia untuk menyelesaikan beberapa project untuk masyarakat disana. Saya berdoa smoga dia bahagia, dan dikaruniai pasangan yg bisa menjinakan dia (kalau dia butuh pasangan). Buat orang2 yg pernah bilang ke saya jika pernikahan itu adalah penderitaan, saya hanya mau bilang : "penderitaan itu bukan terletak pada pernikahan, penderitaan itu terletak di hati kita, menikah atau tdk selama penderitaan di hati masih ada, maka tdk akan bahagia. Keterikatan kitalah yg membuat penderitaan itu. Sudah saatnya kita berhenti menyalahkan situasi. Semuanya berada di dalam diri kita". Walaupun pernikahan saya berakhir perceraian, tapi kmi melakukannya dengan suka cita. Itu yang terpenting, bukan situasinya, tapi niat dibalik itu. Saya yakin kekuatan hati dapat merubah segalanya. Terima kasih teman2. Saya sengaja menulis dan membuka keadaan saya, krn sekarang saya sudah mulai bersosialisasi lagi. Saya tau banyak teman2 yg ingin bertanya tapi tdk enak dengan saya. Saya juga males harus cerita ke setiap orang. Masalah nya banyak orang yg harus saya temui dan ingin ketemu. Bosan klo saya harus terus balik ke masa lalu. Terima kasih atas dukungannya. Tetap semanat ya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar