Minggu, 07 September 2014

Spiritualitas Di Tanah Leluhur

Pagi2 terbangun niat untuk menulis lanjutan buku tapi mantra untuk ista dewata terus terucap tanpa henti, tanpa keinginan untuk menjapakan. Semua terjadi otomatis. Akhirnya entah mengapa memutuskan untuk membaca buku "mantra yoga" karangan anak negeri. Pengetahuan yang disesuaikan dengan alam nusantara, kebijaksanaan yg berumur ribuan tahun. Buku yg ditulis oleh seorang anak muda dgn bahasa yang sangat sederhana. Hati saya bahagia, seperti menemukan air di tengah gurun pasir. Tidak menyangka jika semua ajaran suci sudah ada di tanah kelahiran saya. Bertanya dalam diri, berapa anak muda yg mengetahuinya? Apakah di luar sana banyak anak2 muda spt saya, yg tidak menyadari kekayaan negeri sendiri? Sungguh sangat sayang jika pengetahuan2 ini tdk dapat dinikmati banyak org, atau malah lebih dihargai oleh org luar? Ah, jauh2 saya mencari pengetahuan sejati. Ajaran yg berasal dari Tibet dan India, Jepang dan China atau mungkin timur tengah? semua bertujuan sama, intinya sama, tetapi cara pelaksanaannya berbeda. Dulu saya bingung. Makin banyak yg saya pelajari, makin bingunglah saya. Mencari mana yg terbaik. Sampai kemudian hati saya berlabuh pada ajaran tantra tibetan. Dan kemudian ketika saya berada di tingkat pemahaman esensi, baru setelah itu saya melihat kesatuan persamaan dalam setiap ajaran. Satu esensi yg sama memiliki pelaksanaan yg berbeda yg disesuaikan dengan kondisi tempat, budaya dan banyak lg. Sampai kemudian keadaan memaksa saya untuk balik ke tanah air. Disini dihadapan Guru Rinpoche, saya kehilangan ikatan batin. Setiap saya menjapakan Guru Rinpoche mantra, wajah shiva yg muncul. Setiap bermeditasi di kamar, entah kaki selalu ingin ke sanggah. Panggilan kuat para leluhur, kedekatan batin yg amat sangat. Perasaan sebagai tempat yg tersuci dari pada kamar suci yg saya buat sendiri. Saya bingung sendiri, tapi sadhana saya adalah tibetan budhism. Tapi knapa ketika di tanah ini, ada rasa yg berbeda. Ada sesuatu yg kurang. Sepertinya saya memperlakukan Ibu Pertiwi dengan cara asing. Alam itu baik. Ibu kita itu baik hati. Kemudian saya di pertemukan oleh org pertama yg menyadarkan saya akan kearifan lokal, dia bilang "saya ingin spiritual, saya ingin yoga, tapi saya tidak ingin bergabung dengan sebuah kelompok spiritual yg membuat sanggah saya kering. Saya melihat teman2 saya beramai-ramai membuat kamar suci, tapi sanggah merekah diabaikan. Malah tdk dianggap penting lg. Saya ingin ajaran spiritual tanpa harus meninggalkan tradisi saya". Shock terapi buat saya. Sebuah jawaban atas kegelisahan saya. Sesuatu yg juga saya butuhkan ketika memilih untuk tinggal di tanah ini. Dari pertemuan itu, perjalanan kami untuk masuk ke dalam diri dimulai. Memulai perjalanan dengan kendaraan kebijaksanaan dari leluhur sendiri. Pertemuan2 berikutnya, membuat saya bahagia, ah semua disini. Di tanah kelahiran sendiri. Saya memilih lahir di kepulauan ini dengan sebuah alasan, dan kebutuhan untuk jiwa pun sudah disiapkan. - perjalanan ini masih panjang, sambil belajar jangan lupa berbagi. Sedikit demi sedikit alam kita dirusak, tapi jangan sampai hatimu ikut rusak karena frustasi atau marah karn keadaan ini. Benteng terakhir untuk masa depan negeri kita adalah pengetahuan kebijaksanaan dari para leluhur. Pilihan ada ditanganmu, mengambil tongkat ini atau mengabaikannya. - With Nyoman Kurniawan, Yuni Suastini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar